Minyak Karo Laucih | Minyak Urut dan Minyak Pijat Tradisional

Minyak urut khas Karo untuk relaksasi alami.

Masyarakat Karo di Sumatera Utara mewariskan Minyak Karo Laucih sebagai minyak urut dan minyak pijat tradisional sejak abad ke-15. Para peracik tradisional mengolah ramuan ini menggunakan rempah-rempah pilihan yang dimasak di atas tungku dengan belanga besar melalui proses turun-temurun. Hingga kini, masyarakat tetap mempertahankan cara tradisional tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Dalam budaya Karo, masyarakat mengenal minyak ini dengan berbagai nama seperti Minak Alun, Minak Ndikar, Minak Tawar Penggel, dan yang paling populer yaitu “Minak Pengalun” yang berarti minyak pijat.

Minyak Karo Laucih | Minyak Urut dan Minyak Pijat Tradisional
Minyak Karo Laucih | Minyak Urut dan Minyak Pijat Tradisional

Pada masa lampau, para tabib atau “Guru” dalam bahasa Karo selalu membawa minyak tradisional ini sebagai bagian dari pengobatan masyarakat. Salah satu tabib terkenal pada masa itu adalah Guru Patimpus Sembiring Pelawi, tokoh yang mendirikan Kota Medan sekitar tahun 1590. Beliau membantu banyak masyarakat melalui pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Banyaknya masyarakat yang datang untuk berobat dan berkumpul di tempat tersebut membuat daerah itu dikenal dengan istilah “Madan” dalam bahasa Karo yang kemudian berkembang menjadi Kota Medan.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat di luar suku Karo mulai menggunakan minyak pengalun ini karena merasakan manfaatnya untuk perawatan tubuh. Karena berasal dari Tanah Karo, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai “Minyak Karo”. Nama tersebut terus berkembang hingga dikenal luas di berbagai daerah Indonesia.

Keluarga Tamateran Ginting dan Enut Br Sembiring Pelawi di daerah Laucih mulai meracik minyak tradisional ini sejak sekitar tahun 1960. Pada masa itu, mereka belum memberikan nama atau merek karena menganggap minyak tersebut pantang diperjualbelikan dan lebih sering diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan. Pada tahun 1999, keluarga mulai memberikan identitas resmi dengan nama Minyak Karo Laucih.

Kini, generasi penerus terus mengembangkan Minyak Karo Laucih dengan tetap menjaga keaslian ramuan tradisional sekaligus menghadirkan inovasi modern dalam kualitas dan kemasan agar semakin diterima oleh masyarakat Indonesia.